Mungkin kedua belah pihak tak bisa lain. Dalam permusuhan sesengit itu, posisi dan klaim kebenaran bisa sangat mengeras, menajam, membuahkan sikap agresif: ”Kebenaranku absolut, dan pasti dibenarkan siapa saja.” Aneh, sebenarnya.

Ketika permusuhan membelah kehidupan jadi ”kami” dan ”mereka”, masing-masing bergerak dengan militan justru karena meyakini ”Kebenaran” dalam ”kami” adalah Kebenaran yang universal—Kebenaran yang juga diterima ”mereka” dan untuk ”mereka”. Mungkin ini salah satu corak perang modern: saling menghancurkan dengan pembenaran ideologi. Tapi juga ini menegaskan bahwa ”kebenaran” belum hilang dari percakapan.

Juga sifat universalnya. Ketika Indonesia baru saja berhasil merebut kemerdekaan nasionalnya, pada 1945, para perumus konstitusinya menulis, sebagai kalimat pembuka, bahwa kemerdekaan adalah ”hak segala bangsa”. Mukadimah ini tak hanya merayakan kemerdekaan sendiri. Pembebasan itu tak sepihak. Ada sesuatu yang lebih luhur dalam tujuan perjuangan ketimbang sekadar memenuhi kepentingan sendiri. Kian bernilai dan berarti perjuangan kemerdekaan, kian keras pula usaha di dalamnya. ”Kami” tak sendiri.

Bahkan dengan ”mereka”, dengan musuh, ”kami” bisa berbagi beberapa nilai yang universal. Tapi adakah nilai yang universal? Tidakkah, seperti diungkapkan para pemikir pascamodern, apa yang diasumsikan sebagai ”universal” ternyata hanya nilai Eropa yang diterima di mana-mana karena hegemoni berabad-abad? Bersama para pemikir pascamodern, kita bertemu lagi dengan Perspektivismus Nietzsche:

Kebenaran selamanya dirumuskan dan diterima dalam tempat, sejarah, kebudayaan tertentu. Sajak Amichai tampaknya bertolak dari Perspektivisme ini. ”Dari tempat di mana kita benar….” Kita ”benar” bukan di luar ruang dan waktu. Di kepala kita tak ada sabda dewa langit. Lagi pula ada ”keraguan dan cinta” yang membuat kita manusiawi kembali. Ada kerendah-hatian dalam sajak Amichai.

Tapi suka atau tak suka, kita hidup di zaman digital yang langsung menyaksikan kekejaman atas nama Tuhan (yang tak kenal sejarah) dan arus keserakahan modal dan manusia (yang tak kenal perbatasan). Menghadapi itu, apa jadinya jika yang kita miliki hanya ”Kebenaran” yang terbatas pada perspektif sendiri? Keraguan membuat kita manusia kembali, di atas tanah yang gembur.

Tapi mungkin cinta akan membuat kita tak akan kalah dikepung globalisasi fanatisme dan kerakusan: ”Cinta itu seperti gudang penyimpan kebaikan hati dan kenikmatan,” kata Amichai, ”seperti lumbung gandum dan tangki air ketika kota dikepung.”

Website : kota-bunga.net

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *